BENCANA MERAPI: SETELAH LETUSAN

BENCANA MERAPI: SETELAH LETUSAN

Panorama Kinahrejo, kampung kediaman Mbah Marijan (83 tahun) dan salah satu kampung yang paling parah oleh bencana letusan Merapi pada 26 Oktober 2010. Fotografer Jawa Pos –yang berpangkalan di Kampus Perdikan INSIST selama meliput kawasan bencana tersebut– mengambil gambar ini pada 27 Oktober siang. Debu tebal menutup hampir semua permukaan desa, sehingga nampak serba putih keabu-abuan mirip musim salju berkabut tebal di daratan Eropa atau Amerika Utara.

JALAN BERDEBU

Satu satuan polisi, tentara dan relawan lokal mulai menutup gerbang masuk kawasan wisata Kaliurang yang terletak hanya sekitar 3 kilometer dari Kampus Perdikan INSIST. Joeni Hartanto, salah seorang relawan TRK-INSIST mengambil gambar ini sekitar jam 20:00 WIB, hanya beberapa jam setelah letusan terjadi dan debu tebal sudah menutup permukaan Jalan Raya Kaliurang.

BARAK PENGUNGSI

Dua suasana di barak penampungan pengungsi, masing-masing di Hargobinangun (KIRI), barak terdekat dengan Kampus Perdikan INSIST, hanya sekitar 1 kilometer; dan di Umbulharjo (KANAN), barak terdekat dengan lokasi paling parah di Kinahrejo dan Kaliadem. Gambar di Barak Hargobinangun diambil menjelang tengah malam 26 Oktober 2006 oleh Joeni Hertanto dari TRK-INSIST, sementara gambar di Barak Umbulharjo, sekitar 7 kilometer arah utara-timur Kampus Perdikan INSIST, diambil pada siang hari 27 Oktober 2010 oleh fotografer Jawa Pos.

KORBAN TERLUPAKAN

Hantaman awan dan debu panas dari Merapi tidak hanya merusak bangunan dan melukai atau membunuh penduduk setempat, tetapi juga hewan-hewan ternak mereka. Beberapa ekor sapi penuh debu dan luka-luka ini dipotret di Desa Umbulharjo, 29 October 2010 pagi. Sampai sekarang, hampir tak ada sama sekali tindakan tanggap-darurat yang berarti untuk menolong dan menyelamatkan ternak-ternak korban tersebut yang biasanya memang terabaikan dalam banyak peristiwa bencana dimana pun. Buktinya, belum ada data lengkap tentang korban ternak tersebut dan kerugian yang diakibatkannya. Padahal, di pedesaan Jawa seperti di kawasan Merapi, ternak adalah salah satu harta terpenting para warga desa, sebagai tabungan utama mereka di masa-masa sulit. TRK-INSIST sedang memulai suatu pendataan korban-korban ternak ini, bahkan sudah mulai menggagas kemungkinan suatu skema khusus pada tahap pasca tangap-darurat nanti.

SEMANGAT RELAWAN
Jam 09:00, Sabtu 30 Oktober 2010, Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) segera melakukan rapat di POSKO mereka di INSISTPress, untuk menanggapi letusan besar terbaru Merapi yang terjadi pada tengah malam sebelumnya. Debu tebal di hampir seluruh kota Yogyakarta tidak menghalangi mereka untuk tetap berkegiatan seperti pada hari-hari sebelumnya (KIRI). Sementara Tim Pendukung (staf YPRI & Sekretariat INSIST) yang menangani administrasi & manajemen TRK bahkan bekerja sampai malam di akhir pekan yang sibuk dan melelahkan ini (KANAN)

POSKO TRK-INSIST BARU

Situasi dan kondisi berubah sangat cepat, sumbangan barang, uang dan kedatangan relawan dari berbagai lembaga jaringan INSIST, UII, UGM mengalir silih berganti. POSKO TRK-INSIST di Kantor INSISTPress yang ditempati mulai tanggal 27 November 2010 mulai terasa sesak. Akhirnya diputuskan untuk mendirikan POSKO BARU di rumah Ibu Zumrotin K. Susilo di Jalan Kaliurang Km 9 (Depan Toko Radja Beton). Lantai I kita gunakan sebagai gudang logistik, administrasi penerimaan dan distribusi barang; Lantai II kita gunakan sebagai ruang Koordinasi, Rapat sekaligus ruang istirahat tidur di malam hari.

Sekitar 25-40 relawan dimobilisasi dari INSISTPress, Sekretariat INSIST, LPTP, Kampung Halaman, Sekretariat YPRI, LSKAR, UPS Jogjakarta, Mahasiswa UGM dan UII. Tenaga-tenaga relawan muda berotot dan rajin dari Kampung Halaman (Bajul, Diaz, Dano, Ima, Bayu, Titis dan masih banyal lagi yang lainnya,..maaf saya tidak hapal namanya) dan juga Ari yang khusus datang dari Randu Blatung Blora bertugas dibagian penerimaan dan distribusi logistic dengan komandan Cecilia dan Opee.

Sejak awal POSKO TRK-INSIST berjalan, kawan-kawan relawan ini tetap setia dengan tugasnya menerima, mendistribusikan barang dan menjadi “kuli angkut” tanpa mengeluh dan selalu berkerja dengan canda riang ditemani relawan-relawan senior dari LPTP, INSIST, YPRI, SALAM, LSKAR, UPS  yang memang sudah terlebih dahulu berpengalaman sejak bencana Gempa Jogja-Klaten 2006. Silih berganti mereka bergiliran berjaga di malam hari, silih berganti teman pula jika giliran kuliah. Khusus kawan-kawan relawan LPTP yang lebih memfokuskan assessment lapangan di posko-posko pengungsian, mendata semua informasi yang diperlukan untuk perbantuan dalam fase tanggap darurat dan paska tanggap darurat..

Kelelahan, kebosanan jelas mereka rasakan setelah 10 hari lebih menjadi relawan. Namun perasaan itu seakan terhapus ketika mereka bisa melihat secercah senyum tulus pengungsi menyampaikan terimakasih atas bantuannya,….dan kumpul bareng badendang besamo munco. Selamat berjuang KAWAN, tetap SEMANGAT.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: