IMPACT OF THE CRISIS OF CAPITALISM AMERICAN ECONOMIC INDONESIA *

khabarislam.wordpress.com. Kesepakatan diam-diam untuk menyebut krisis keuangan yang terjadi belakangan ini sebagai krisis keuangan global tampaknya merupakan gejala yang sangat umum di seluruh dunia. khabarislam.wordpress.com. secretly Agreement to refer to the financial crisis that occurred recently as a global financial crisis seems to be a very common phenomenon throughout the world. Sepintas lalu, penyebutan seperti itu mungkin tampak biasa-biasa saja. At first glance, such a reference might seem mundane. Namun bila dipikirkan secara mendalam, tidak akan terlalu sulit untuk dibuktikan bahwa penyebutan seperti itu tidak hanya cenderung mengaburkan, tetapi juga dapat menimbulkan implikasi yang sangat serius terhadap sikap dan cara-cara yang akan kita tempuh dalam menanggulangi dampaknya. But when considered in depth, will not be too difficult to prove that such reference is not only tend to obscure, but it also can cause a very serious implications on the attitudes and the ways that we will go in overcoming its effects.

Saya kira semua pihak mengetahui bahwa krisis keuangan yang terjadi belakangan ini bermula di Amerika. I think all parties knew that the financial crisis that occurred recently in the United States begins. Dengan latar belakang seperti itu, alih-alih menyebutnya sebagai krisis keuangan global, jauh lebih tepat bila ia disebut sebagai krisis keuangan Amerika. With a background like that, instead of calling as global financial crisis, much more precise when he referred to as the American financial crisis. Bahwa dampak krisis keuangan yang bermula di Amerika itu cenderung menyebar ke seluruh penjuru dunia, hal itu hanya mengungkapkan betapa sangat dominannya peranan Amerika dalam tata perekonomian dan keuangan global. That the impact of financial crisis that began in the United States was likely to spread to all over the world, it only reveals how very dominant American role in the financial system and global economy.

Namun bagi saya, penyebutan krisis keuangan yang bermula di Amerika itu sebagai krisis keuangan Amerika saja jauh dari cukup. But for me, the mention of the financial crisis which began in America as the U.S. financial crisis far from enough alone. Saya kira kita semua mengetahui bahwa selain memiliki peranan yang sangat dominan dalam tata perekonomian dan keuangan global, Amerika juga memiliki kedudukan yang sangat terhormat sebagai pusat kapitalisme internasional. I think we all know that besides having a very dominant role in the financial system and global economy, America also has a very respectable position as a center of international capitalism. Sebab itu, bagi saya, krisis keuangan yang terjadi belakangan ini paling tepat bila disebut sebagai krisis kapitalisme Amerika. Therefore, for me, the financial crisis that occurred lately best known as a crisis when American capitalism.

Penyebutan krisis keuangan yang terjadi belakangan ini sebagai krisis kapitalisme Amerika terutama memiliki makna yang sangat penting dalam tiga hal sebagai berikut : The mention of financial crisis as a crisis these days, especially American capitalism has a very important meaning in three ways as follows:

Pertama , dengan memberi sebutan seperti itu, saya berharap kita dapat dengan cepat menyadari bahwa Amerika dan perekonomian Amerika bukanlah segala-galanya. First, the name calling like that, I hope we can quickly realize that the Americans and the American economy is not everything. Sama seperti perekonomian negara-negara lain, perekonomian Amerika juga dapat mengalami krisis. Just as the economies of other countries, the U.S. economy can also experience a crisis. Bahkan, sama seperti imperium-imperium kuno yang hilang ditelan sejarah, Amerika pun sesungguhnya tidak memiliki hak istimewa untuk terhindar dari nasib serupa. In fact, just as the ancient empires that disappeared into history, Americans really do not have the privilege to avoid a similar fate.

Kedua , dengan menyebutnya sebagai krisis kapitalisme Amerika, saya juga berharap agar kita segera menyadari bahwa sistem perekonomian kapitalis bukanlah sistem perekonomian yang sempurna. Second, by calling the American crisis of capitalism, I also hope that we soon realized that the capitalist economic system is not a perfect economic system. Dengan mengatakan hal itu saya tidak hanya bermaksud untuk mengatakan bahwa mekanisme pasar tidak hanya tidak dapat mengatur dirinya sendiri. In saying that I do not just mean to say that the market mechanism not only can not govern themselves. Lebih dari itu, kelemahan sistem perekonomian kapitalis ternyata tidak hanya terletak pada ketidakadilan dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya, tetapi juga pada sifat destruktifnya ketika ia terjerumus ke dalam krisis. Moreover, the weakness of the capitalist economic system was not only the injustice and environmental damage it caused, but also on the destructive nature when he fell into a crisis.

Ketiga , dengan menyebutnya sebagai krisis kapitalisme Amerika, saya berharap kita segera memperoleh inspirasi untuk memikirkan berbagai sistem perekonomian alternatif yang tidak hanya lebih tepat bagi negara kita masing-masing, tetapi secara global juga jauh lebih berkeadilan, lebih ramah lingkungan, dan lebih menjamin terjaganya kesinambungan peradaban umat manusia. Third, the crisis of capitalism, call it America, I hope we soon get the inspiration to think about alternative economic systems that are not only more appropriate for our country each, but also globally far more equitable, more environmentally friendly, and better ensure the preservation of continuity human civilization. Krisis kapitalisme Amerika harus menjadi sumber inspirasi bagi kita untuk meyakini bahwa dunia yang tidak kapitalis tidak hanya mungkin, tetapi juga jauh lebih baik daripada sebuah dunia yang berada di bawah hegemoni kapitalisme Amerika seperti saat ini. Crisis of American capitalism have become a source of inspiration for us to believe that the world is not capitalist is not only possible, but also much better than a world under the hegemony of American capitalism as today.

Dengan memulai makalah ini dengan sebuah pengantar yang sangat umum seperti itu, saya sama sekali tidak bermaksud untuk melupakan masalah utama yang harus saya bahas di sini. In this paper started with a very general introduction like that, I did not intend to forget the main issue I have discussed here. Sesuai dengan judul di muka, bahasan utama makalah ini adalah mengenai dampak krisis kapitalisme Amerika terhadap perekonomian Indonesia. According to the titles in advance, the main topics of this paper is about the impact of American capitalism crisis on the economy of Indonesia. Tujuan saya memulai makalah ini dengan sebuah pengantar yang sangat umum seperti itu adalah untuk menghindarkan kita dari perangkap penjelasan yang hanya bersifat kuantitatif dan teknis. The purpose of this paper I begin with a very general introduction like that is to keep us from the trap explanation purely quantitative and technical. Dengan kata lain, dalam menyikapi krisis yang terjadi belakangan ini, selain perlu memahami dampak kuantitatif dan teknisnya, kita juga perlu memahami dampak politis dan bahkan dampak ideologisnya. In other words, in addressing the crisis that happened lately, but need to understand the impact of quantitative and technical, we also need to understand the impact of political and even ideological impact.

Sebab itu, sebelum membahas dampak krisis kapitalisme Amerika terhadap perekonomian Indonesia, izinkan saya memaparkan secara singkat latar belakang sejarah dan corak struktur perekonomian Indonesia. Therefore, before discussing the impact of the crisis of American capitalism, the Indonesian economy, let me explain briefly the historical background and style of the structure of the Indonesian economy. Pemaparan mengenai latar belakang sejarah dan corak struktur perekonomian Indonesia ini sangat penting untuk memahami pola hubungan antara perekonomian Indonesia dengan perekonomian Amerika. Exposure of the historical background and style of Indonesian economic structure is very important to understand the pattern of economic relations between Indonesia and the U.S. economy. Sebagaimana diketahui, dampak krisis kapitalisme Amerika terhadap berbagai negara di dunia cenderung berbeda-beda. As known, the impact of American capitalism crisis to various countries in the world tend to differ. Salah satu variabel yang menyebabkan timbulnya perbedaan itu adalah sifat khusus hubungan perekonomian negara yang bersangkutan dengan kapitalisme Amerika. One of the variables that contributed to the differences that are specific nature of economic relations with the countries concerned American capitalism.

Neokolonialisasi Indonesia Neokolonialisasi Indonesia

Latar belakang sejarah dan corak struktur perekonomian Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah kolonialisme yang dialami negeri ini. Historical background and style of the structure of the Indonesian economy can not be separated from the colonial history of this country experienced. Sebagaimana diketahui, terhitung sejak awal abad ke 17, bangsa Indonesia secara berturut-turut dijajah oleh serikat dagang Belanda yang bernama VOC, oleh Kerajaan Belanda, oleh Kerajaan Inggris, dan oleh pemerintah pendudukan Jepang. As known, starting from the early 17 th century, the Indonesian people successively colonized by the Dutch trade union called the VOC, the Dutch Kingdom, the United Kingdom, and by the occupation government.

Dampak yang sangat serius dari penajajahan yang berlangsung selama tiga setengah abad itu adalah pada terbentuknya struktur perekonomian yang bercorak kolonial di Indonesia. A very serious impact of penajajahan that lasted for three and a half centuries it was the formation of patterned structures of the colonial economy in Indonesia. Presiden pertama Indonesia Ahmad Soekarno, yang menyoroti sisi internasional fenomena tersebut, mengemukakan tiga hal berikut sebagai ciri utama struktur perekonomian Indonesia yang bercorak kolonial itu. The first Indonesian President Ahmed Sukarno, which highlights the international side of this phenomenon, expressed as the following three main features of the economic structure of Indonesia’s colonial patterned. Pertama, perekonomian Indonesia hanya diposisikan sebagai produsen komoditas-komoditas primer untuk diekspor ke pusat-pusat kapitalisme internasional Kedua, perekonomian Indonesia hanya diposisikan sebagai pasar barang-barang jadi yang diproduksi di pusat-pusat kapitalisme di dunia. First, the Indonesian economy positioned as the only producer of primary commodities for export to the centers of international capitalism Secondly, the Indonesian economy positioned as the market only manufactured goods produced in the centers of world capitalism. Dan ketiga, perekonomian Indonesia cenderung menjadi tujuan tempat memutar kelebihan kapital yang terdapat di pusat-pusat kapitalisme internasional itu. And third, the Indonesian economy tends to play a destination where there is excess capital in the centers of international capitalism.

Sedangkan wakil presiden pertama Indonesia Mohammad Hatta, lebih memusatkan perhatiannya terhadap sisi domestik dari struktur perekonomian Indonesia yang bercorak kolonial tersebut. Meanwhile, Indonesia’s first vice president Mohammad Hatta, more focused on the domestic side of the Indonesian economic structure of colonial print it. Menurut beliau, salah satu ciri dari struktur perekonomian Indonesia yang bercorak kolonial itu adalah pada terbaginya masyarakat Indonesia menjadi tiga strata sebagai berikut. According to him, one of the characteristics of Indonesia’s economic structure was patterned on the colonial division of Indonesian society into three strata as follows. Lapisan paling atas, yang memiliki akses paling besar terhadap sumberdaya alam Indonesia, diisi oleh warga Eropa. The top layer, which have the greatest access to Indonesia’s natural resources, be filled by citizens of Europe. Lapisan tengah, yang menguasai sektor perdagangan barang dan jasa, ditempati oleh warga Timur Asing. The middle layer, which controls the trade sector goods and services, the East was occupied by foreign residents. Sedangkan lapisan bawah diisi oleh mayoritas penduduk asli Indonesia yang dikenal sebagai kaum pribumi. While the lower classes filled by a majority indigenous population of Indonesia is known as the natives.

Dengan memahami latar belakang sejarah dan corak struktur perekonomian Indonesia itu maka perlu saya garis bawahi bahwa tujuan perjuangan kemerdekaan Indonesia sejak semula tidak terbatas hanya pada upaya untuk merebut kedaulatan politik. By understanding the historical background and motive of Indonesia’s economic structure so I need to underline that the purpose of Indonesian independence struggle from the beginning is not limited to efforts to win political sovereignty. Setidak-tidaknya, kedaulatan politik bukanlah tujuan utama. At least, political sovereignty is not the main goal. Tujuan utama perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah untuk mengoreksi struktur ekonomi kolonial yang diwarisinya dari para penjajah. The main purpose of Indonesian independence struggle was to correct colonial economic structures inherited from the colonizers. Secara tegas, sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang Undang Dasar Republik Indonesia, tujuan pendirian negara Republik Indonesia adalah: Pertama, untuk melindungi segenap tumpah darah dan seluruh tanah air Indonesia. Strictly speaking, as stated in the opening of the Constitution of the Republic of Indonesia, the founding purpose of the Republic of Indonesia is: First, to protect all the blood spilled and the whole country of Indonesia. Kedua, untuk memajukan kesejahteran umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Second, to promote the general welfare and intellectual life of the nation. Dan ketiga, untuk dapat turut serta dalam menciptakan perdamaian dunia. And third, to be able to participate in creating world peace.

Dalam rangka mencapai ketiga tujuan tersebut, maka dalam bidang ekonomi para pendiri bangsa Indonesia menggariskan perlunya upaya sistemik untuk mewujudkan demokrasi ekonomi di Indonesia. In order to achieve these three objectives, then the economics of the founders of the Indonesian nation outlining the need for systemic efforts to achieve economic democracy in Indonesia. Sebagaimana diuraikan secara terinci dalam Pasal 33 UUD 1945, upaya sistemik untuk mewujudkan demokrasi ekonomi itu harus dilakukan berdasarkan tiga pedoman sebagai berikut. As described in detail in Article 33 UUD 1945, systemic efforts to achieve economic democracy must be based on the following three guidelines. Pertama, perekonomian Indonesia harus disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. First, Indonesia’s economy must be organized as a common endeavor based on familial principles. Kedua, cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Second, branches of production are important for the state and who dominate the life of the people must be controlled by the state. Dan ketiga, bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. And third, earth, water, and all the riches contained therein shall be controlled by the state and used to attain the prosperity of the people.

Pertanyaannya, bagaimanakah reaksi pihak kolonial, khususnya Belanda dan Inggris terhadap perjuangan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia tersebut? The question is, how the colonial reaction, especially the Dutch and English on the struggle and ideals of the independence of Indonesia? Jawabannya sangat jelas, mereka tidak hanya tidak dapat menerimanya tetapi berusaha sekuat tenaga untuk segera mengakhirinya. The answer is very clear, they not only can not accept it but try my best to end it immediately. Bahkan, setelah bangsa Indonesia secara resmi memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, pemerintah Belanda (dan Inggris) tanpa ragu-ragu mengirim kembali angkatan bersenjata mereka ke Indonesia. In fact, after the Indonesian nation was officially proclaimed its independence on August 17, 1945, the Dutch (and English) without hesitation to send back their armed forces to Indonesia. Akibatnya, setelah melalui dua rangkaian peperangan yang dikenal sebagai peristiwa Agresi I (1947) dan Agresi II (1948), bangsa Indonesia dipaksa oleh pemerintah Belanda untuk kembali berunding mengenai masa depan Indonesia dalam sebuah konferensi internasional yang dikenal sebagai Konferensi Meja Bundar. As a result, after going through two sets of wars known as the event aggression I (1947) and aggression II (1948), the nation of Indonesia by the Dutch government was forced to re-negotiate on the future of Indonesia in an international conference known as the Round Table Conference.

Berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar yang berlangsung di De Hague, Belanda, yang berakhir pada tanggal 12 Desember 1949 itu, bangsa Indonesia akhirnya memang berhasil memperoleh pengakuan kedaulatannya dari Perserikatan Bangsa Bangsa. Based on the results of the Round Table Conference held in De Hague, Netherlands, which ended on December 12, 1949, the Indonesian nation eventually managed to obtain recognition of its sovereignty from the United Nations. Persoalannya, sebagaimana berlangsung secara luas di Indonesia, ternyata tidak banyak warga masyarakat, termasuk yang telah berusia lanjut, yang mengetahui bahwa pengakuan kedaulatan yang diperoleh Indonesia dari Konferensi Meja Bundar bukanlah sebuah pengakuan kedaulatan yang bersifat cuma-cuma. The problem, as is widely held in Indonesia, it was not a lot of people, including older, who knows that the recognition of Indonesian sovereignty derived from the Round Table Conference is not a recognition of sovereignty that is free of charge.

Sebagaimana tercantum dalam dokumen rekaman sidang konferensi tersebut, sekurang-kurangnya ada dua syarat ekonomi yang harus dibayar Indonesia untuk memperoleh pengakuan kedaulatan itu. As stated in the documents recording the conference session, at least there are two economic conditions which must be paid to obtain Indonesia’s recognition of sovereignty. Pertama, Indonesia harus bersedia mewarisi 4,3 milyar gulden utang dalam dan luar negeri pemerintah Hindia Belanda. First, Indonesia should be prepared to inherit the 4.3 billion guilders in debt and government foreign Dutch East Indies. Kedua, bangsa Indonesia harus bersedia menyelenggarakan perekonomiannnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan Dana Moneter Internasional (IMF), bahkan sebelum Indonesia secara resmi menjadi anggota lembaga tersebut. Second, the Indonesian nation must be willing to hold perekonomiannnya accordance with the provisions of the International Monetary Fund (IMF), even before Indonesia formally became a member of the institution.

Mencermati kedua syarat ekonomi itu, dapat disaksikan betapa pemerintah Belanda sejak semula telah berusaha menjerumuskan Indonesia ke dalam sebuah perangkap yang saya sebut sebagai perangkap neokolonialisme. Considering both the economic conditions, can be seen how the Dutch government from the beginning has tried to Indonesia plunged into a trap that I refer to as a trap neocolonialism. Artinya, sesuai dengan bunyi kedua persyaratan tersebut, sebelum membuat utang sendiri, bangsa Indonesia sudah memiliki utang dalam jumlah cukup besar. This means, in accordance with the sound of these two requirements, before making his own debt, the Indonesian people have a debt in rather large amounts. Selanjutnya, sebelum secara resmi menjadi anggota IMF, Indonesia sudah terikat oleh semua ketentuan yang diterbitklan oleh lembaga keuangan multilateral yang dikendalikan oleh Amerika Serikat itu. Furthermore, before officially becoming a member of the IMF, Indonesia is bound by all diterbitklan provisions of the multilateral financial institutions controlled by the United States.

Walau pun sampai dengan tahun 1956 pemerintah Indonesia berusaha mematuhi kedua persyaratan tersebut, namun sebagaimana terungkap dalam sejarah, secara ekonomi dan politik kedua persyaratan itu cenderung sangat menyulitkan Indonesia. Although anyone until the year 1956 the Indonesian government to comply with both requirements, but as revealed in history, both economically and politically the two requirements tend to be very difficult for Indonesia. Secara ekonomi, persyaratan itu sangat memberatkan sebab ia memaksa Indonesia untuk mengalokasi sumberdaya terbatas yang dimilikinya untuk keperluan yang sama sekali bertolak belakang dengan kepentingannya. Economically, it is very burdensome requirement because he was forced Indonesia to allocate limited resources at her disposal to use a completely contrary to their interests. Sedangkan secara politis, kedua persyaratan itu jelas merupakan kendala yang sangat serius bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang telah dicanangkannya. While politically, the two requirements are clearly a very serious obstacle for the Indonesian nation to realize the ideals of freedom that have been dicanangkannya.

Sebab itu, mudah dimengerti bila pada 1956, pemerintah Indonesia mengambil keputusan sepihak untuk membatalkan hasil-hasil KMB tersebut. Therefore, easy to understand when in 1956, the Indonesian government’s unilateral decision to cancel the results of the RTC. Implikasinya, terhitung sejak 1956, bangsa Indonesia juga berhenti mengangsur utang-utang warisan Hindia Belanda. The implication, as of 1956, the Indonesian people, too stop handed the debts inherited the Dutch East Indies. Keputusan sepihak itu tentu sangat mengecewakan pemerintah Belanda dan para sekutunya. Unilateral decision of course very disappointing that the Dutch government and its allies. Tetapi pemerintah Indonesia ketika itu tidak hanya berhenti sampai disitu. But the Indonesian government when it was not just stop there. Terhitung sejak 1957, pemerintah Indonesia mulai secara berangsur-angsur melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing yang terdapat di Indonesia. As from 1957, the government of Indonesia began gradually to the nationalization of foreign companies located in Indonesia.

Tindakan nasionalisasi pertama, yang berlangsung sejak 1957 dialami oleh perusahaan-perusahaan Belanda. The first act of nationalization, which lasted from 1957 experienced by Dutch companies. Peristiwa tersebut kemudian disusul oleh nasionalisasi tahap kedua, yang berlangsung pada tahun 1964, yang ditujukan terutama terhadap perusahaan-perusahaan Inggris dan Amerika. The incident was followed by the nationalization of the second stage, which took place in 1964, aimed primarily against the British companies and the U.S.. Puncaknya adalah pada terbitnya Undang-undang No. Peak is in the publication of Law No. 16/1965 pada bulan Agustus 1965, yang secara tugas dan tuntas mengakhiri semua bentuk keterlibatan modal asing di Indonesia. 16/1965 in August 1965, which is the task and complete end to all forms of involvement of foreign capital in Indonesia.

Reaksi Belanda, Inggris, dan terutama Amerika terhadap konfrontasi terbuka yang dilancarkan Soekarno itu sangat mudah diduga. Reaction Dutch, English, and especially America’s, launched an open confrontation Sukarno was very predictable. Sebagaimana sudah menjadi pengetahuan umum, tepat pada tanggal 30 September 1965, atau persis sebulan setelah terbitnya UU No. As has become common knowledge, right on September 30, 1965, or exactly a month after the publication of Law No. 16/1965, meletuslah perisitiwa berdarah yang menandai dimulainya proses transisi kekuasan di Indonesia. 16/1965, which erupted perisitiwa bloody mark the beginning of the process of transition of power in Indonesia. Yang menarik, walau pun secara informal Soekarno mulai kehilangan kekuasaan sejak terbitnya Surat Perintah 11 Maret pada bulan Maret 1966, namun secara formal Soekarno masih terus menandatangani UU hingga Soeharto secara resmi mengambil alih kekuasan pada bulan Maret 1967. Interestingly, although informally even Sukarno began to lose power since the publication of Command March 11 in March 1966, but Sukarno formally signed the Act continued until Suharto officially took over power in March 1967.

Empat diantara beberapa UU yang ditandatangani Soekarno pada akhir masa kekuasaannya, yang secara jelas mengungkapkan keterlibatan asing, khususnya Amerika, dalam proses penggulingan Soekarno adalah sebagai berikut. Four among some law that was signed at the end of Sukarno’s reign, which clearly reveals the involvement of foreigners, especially Americans, in the overthrow of Sukarno is as follows. Pertama, UU No. First, the Act No. 7/1966 tentang kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keuangan yang belum terselesaikan antara keduanya. 7 / 1966 of an agreement between the Government of Indonesia with the Dutch government to resolve financial issues unresolved between them. Kedua UU No. Second Act No. 8/1966 tentang pendaftaran Indonesia sebagai anggota Bank Pembangunan Asia (ADB). 8 / 1966 on registration of Indonesia as a member of the Asian Development Bank (ADB). Ketiga, UU No. Third, the Act No. 9/1966 tentang pendaftaran kembali Indonesia sebagai anggota IMF dan Bank Dunia. 9 / 1966 on Indonesian readmission as a member of the IMF and World Bank. Dan keempat, UU No. And fourth, Law No. 1/1967 tentang Penamanan Modal Asing. 1 / 1967 on Foreign Capital Penamanan. Perlu diketahui, UU No. Please note, Act No. 7, 8, dan 9/1966 terbit pada tanggal yang sama yaitu 8 Nopember 1966. 7, 8, and 9 / 1966 published on the same date of 8 November 1966. Sedangkan UU No. While Law No.. 1/1967 terbit pada tanggal 10 Januari 1967. 1 / 1967 published on 10 January 1967.

Dengan latar belakangan sejarah dan perjalanan ekonomi-politik sebagaimana saya papar tersebut, rasanya tidak terlalu berlebiham bila saya cenderung memahami peristiwa berdarah 30 September 1965 bukan sebagai konflik politik atau militer yang semata-mata bersifat domestik. With the historical background and recent political and economic way, as I explained it, it’s not too berlebiham if I tend to understand the bloody events 30 September 1965 not as a political or military conflict is purely domestic. Menyimak UU No. Listening to the Law No. 16/1965 dan keempat UU terakhir yang ditanda tangani Soekarno tadi, serta disusul oleh berlangsungnya peran dominan sekelompok ekonom hasil didikan Amerika yang dikenal sebagai Mafia Berkeley sepanjang era pemerintah Soeharto, saya lebih suka memahami peristiwa berdarah yang menelan korban lebih dari satu juta jiwa itu sebagai peristiwa yang menandai berlangsungnya transisi dari era kolonialisme klasik ke era neokolonialisme di Indonesia. Law 16/1965 and the last four, signed last Sukarno, and was followed by the ongoing role of the dominant group of American-trained economist result known as the Berkeley Mafia during the era of the Suharto government, I prefer to understand the bloody incident which claimed more than one million people as events that marked the ongoing transition from the classical era to the era of colonialism in Indonesia neocolonialism. Bila dalam era kolonialisme klasik Indonesia secara berganti-ganti dijajah oleh VOC, pemerintah Belanda, pemerintah Inggris, dan pemerintah Jepang, maka dalam era neokolonialisme yang berlangsung sejak 1965 itu, Indonesia secara resmi terjerumus menjadi koloni Amerika. When the era of classical colonialism in Indonesia occupied alternately by the VOC, the Dutch government, the British government, and the Japanese government, in the era of neocolonialism that lasted since 1965, Indonesia officially fallen into the American colonies.

Dampak Krisis Kapitalisme Amerika American Capitalism Crisis Impact

Dengan memahami kedudukan Indonesia sebagai koloni Amerika, maka dampak krisis kapitalisme Amerika terhadap perekonomian Indonesia cenderung sangat berbeda dari yang dialami oleh negara-negara lain yang bukan merupakan koloni pusat kapitalisme internasional tersebut. By understanding the status of Indonesia as the American colonies, the impact of the crisis of American capitalism Indonesian economy tend to be very different from that experienced by other countries that are not a colony of the center of international capitalism. Sehubungan dengan itu, untuk mendapatkan gambaran yang lebih terinci, saya akan membagi dampak krisis kapitalisme Amerika terhadap perekonomian Indonesia ini menjadi dua kategori besar sebagai berikut. Accordingly, to obtain a more detailed picture, I will divide the impact of the crisis of American capitalism Indonesian economy into two broad categories as follows. Pertama, dampak langsung krisis kapitalisme Amerika terhadap kondisi riil perekonomian Indonesia. First, the direct impact of the crisis of American capitalism real condition of the Indonesian economy. Kedua, dampak tidak langsung krisis kapitalisme Amerika terhadap dinamika politik perekonomian Indonesia dalam jangka panjang. Second, the indirect impact of the crisis of American capitalism, the political dynamics of the Indonesian economy in the long run.

Dampak langsung krisis kapitalisme Amerika terhadap kondisi riil perekonomian Indonesia dapat ditelusuri dari beberapa sisi. The direct impact of the crisis of American capitalism real condition of the Indonesian economy can be traced from several sides. Selain dapat ditelusuri dengan mencermati perkembangan sektor moneter dan sektor riil, hal itu dapat pula ditelusuri dengan mencermati dampak turunannya terhadap volume cadangan devisa dan utang pemerintah, serta pada tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Besides can be traced by looking at the development of the monetary sector and real sector, it can also be traced by looking at the impact of derivatives on the volume of foreign exchange reserves and government debt, as well as on the level of unemployment and poverty in Indonesia.

Secara moneter, dampak langsung krisis kapitalisme Amerika terhadap perekponomian Indonesia dapat dicermati pada berlangsungnya gejolak kurs rupiah dan indeks harga saham di lantai bursa. In monetary terms, the direct impact of the crisis of American capitalism perekponomian Indonesia can be seen on the ongoing fluctuations of rupiah exchange rate and stock price index on the bourses. Sebagaimana berlangsung dalam tiga bulan terakhir 2008, kurs rupiah yang sampai dengan pertengahan September 2008 cenderung bertahan pada kisaran Rp 9.000 per satu dollar AS, secara berangsur-angsur merosot melampau Rp11.000 per satu dollar AS. As progress in the last three months of 2008, the rupiah exchange rate to mid September 2008 tended to stay in the range of USD 9000 per one U.S. dollar, gradually declining Rp11.000 go too far one U.S. dollar. Bahkan, pada awal November 2008, kurs rupiah sempat merosot tajam melampau Rp13.000 per satu dollar AS. In fact, in early November 2008, the rupiah had fallen sharply Rp13.000 go too far one U.S. dollar. Angka ini adalah angka terburuk sejak kemerosotan tajam kurs rupiah yang pernah menembus Rp16.000 per satu dollar AS pada saat terjadinya krisis moneter pada tahun 1998 lalu. This figure is the worst figure since the sharp decline in the rupiah exchange rate had penetrated Rp16.000 per one U.S. dollar at the time of monetary crisis in 1998 and then.

Hal yang lebih kurang serupa dapat pula disaksikan dengan mencermati gejolak indeks harga saham. It is more or less the same can also be seen by looking at the stock price index fluctuations. Pada akhir 2007, Indeks Harga Saham Indonesia (IHSG), setelah mengalami pertumbuhan fantastis sepanjang tahun itu, sempat meningkat mencapai level Rp2.745,83. At the end of 2007, Indonesia Stock Price Index (JCI), after experiencing a fantastic growth throughout the year, had increased to reach levels Rp2.745, 83. Bahkan, pada 9 Januari 2008, IHSG sempat meningkat mencapai level tertinggi sebesar Rp2.830,26. In fact, on January 9, 2008, JCI had increased to reach the highest level of Rp2.830, 26. Tetapi menyusul terjadinya krisis kapitalisme Amerika, dalam tahun 2008 IHSG merosot secara drastis menjadi Rp1.355,41. But following the crisis of American capitalism, in the year 2008 JCI dropped drastically to Rp1.355, 41. Artinya, secara akumulatif, dalam tahun kalender 2008 IHSG mengalami koreksi sebesar 50,64 persen. This means that, accumulatively, in calendar year 2008 JCI experiencing a correction of 50.64 percent.

Sementara itu, dampak langsung krisis kapitalisme Amerika terhadap sektor riil Indonesia tampak secara mencolok pada terjadinya kemerosotan tajam pada harga ekspor beberapa komoditas primer Indonesia. Meanwhile, the direct impact of the crisis of American capitalism Indonesian real sector appear prominently on the occurrence of a sharp decline in export prices of primary commodities Indonesian couple. Harga minyak bumi, misalnya, yang pada Mei 2008 sempat menembus US $140 per barrel, belakangan merosot secara drastis menjadi sekitar US$35 per barrel. Oil prices, for example, in May 2008 that could penetrate U.S. $ 140 a barrel, later dropped drastically to around U.S. $ 35 per barrel. Sedangkan harga minyak sawit (Crude Palm Oil), yang hingga pertengahan Juli 2008 terus meningkat mencapai level tertinggi US$1.300 per ton, belakangan merosot cukup tajam menjadi hanya sekitar US$500 per ton. While the price of palm oil (Crude Palm Oil), which until mid-July 2008 continued to increase reaching the highest level of U.S. $ 1300 per ton, later fell quite sharply to only about U.S. $ 500 per ton. Gambaran yang lebih kurang serupa dapat disaksikan pada beberapa komoditas ekspor lainnya seperti kopi, karet, dan kakao. The picture is more or less the same can be seen in some other export commodities such as coffee, rubber, and cocoa.

Akumulasi dari dua sisi dampak langsung krisis kapitalisme Amerika itu antara lain bermuara pada terjadinya kemerosotan besar-besaran pada cadangan devisa serta meningkatnya rencana pemerintah untuk membuat utang luar negeri pada tahun anggaran 2009 yang akan datang. The accumulation of the two sides of the direct impact of the crisis that American capitalism, among others led to the massive decline in foreign reserves and increasing the government’s plan to make foreign debt in fiscal year 2009 that will come. Hingga pertengahan September 2008, cadangan devisa Indonesia masih tercatat sebesar US$60 milyar. Until mid-September 2008, Indonesia’s foreign reserves were recorded at U.S. $ 60 billion. Ini adalah angka tertinggi yang pernah dicapai Indonesia. This is the highest figure ever reached Indonesia. Tetapi belakangan, menyusul terjadinya gejolak rupiah dan merosotnya harga komoditas-komoditas ekspor Indonesia sebagaimana dipaparkan tadi, pada awal Nopember 2008 cadangan devisa Indonesia berkurang sebesar US$10 milyar menjadi sekitar US$50 milyar. But later, following the upheaval of rupiah and declining prices of export commodities of Indonesia as described earlier, in early November 2008 Indonesia’s foreign exchange reserves decreased by U.S. $ 10 billion to about U.S. $ 50 billion. Implikasinya, sebagai bagian dari upaya berjaga-jaga terhadap kemungkinan terburuk pada 2009 yang akan datang, belakangan pemerintah Indonesia mulai menyusun rencana untuk meningkatkan pembuatan utang luar negeri dari rencana semula sebesar Rp60 trilliun, menjadi sekitar Rp200 trilliun. The implication, as part of efforts to guard against the worst in 2009 that will come, later the Indonesian government began making plans to increase production of foreign debt from the original plan of Rp60 trillion, to about 200 trillion.

Muara yang tidak terhindarkan dari dampak langsung krisis kapitalisme Amerika itu adalah pada meningkatnya potensi pemutusan hubungan kerja di Indonesia. Estuary that is not inevitable from the direct impact of American capitalism’s crisis is the increased potential for termination of employment in Indonesia. Hingga akhir 2008, tingkat PHK yang terjadi diperkirakan sudah mencapai sekitar 100.000 orang. Until the end of 2008, the level of layoffs that occurred was estimated at around 100,000 people. Sedangkan untuk tahun 2009, menurut perkiraan sementara, tingkat PHK cenderung meningkat menjadi sekitar 500.000 hingga satu juta orang. Meanwhile, for the year 2009, according to estimates, the level of layoffs tend to increase to about 500,000 to one million people. Sektor industri yang rawan terhadap kemungkinan PHK ini, selain industri-industri yang secara langsung berkaitan komoditas primer berorientasi ekspor sebagaimana dipaparkan di atas, adalah industri tekstil, industri sepatu, dan industri kayu. Industrial sector that is vulnerable to layoffs are likely, in addition to industries that are directly related to export of primary commodities, as described above, the textile industry, shoe industry, and timber industries. Potensi PHK pada industri tekstil saja, misalnya, diperkirakan dapat mencapai kisaran 70.000 – 80.000 orang. The potential layoffs in the textile industry alone, for example, is expected to reach the range of 70,000 to 80,000 people. Sedangkan potensi PHK pada industri sepatu, diperkirakan dapat sekitar 30.000 orang. While the potential for layoffs in the shoe industry, estimated to be approximately 30,000 people.

Terlepas dari dampak langsung tersebut, dampak krisis kapitalisme Amerika yang perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh adalah terhadap perkembangan politik perekonomian Indonesia dalam jangka panjang. Apart from these direct impacts, the impact of the crisis of American capitalism require attention seriously is the political development of the Indonesian economy in the long run. Sebagai sebuah negara yang menjadi koloni Amerika selama 40 tahun terakhir, secara substansial sesungguhnya tidak ada hal yang benar-benar baru bagi Indonesia. As a country that became the American colonies during the last 40 years, is substantially true, there is nothing really new for Indonesia. Bahkan, bila diperhatikan perkembangan perekonomian Indonesia dalam dua abad terakhir, hal yang secara terus menerus dialami negeri ini, kecuali dalam era pemerintahan Soekarno, adalah berlangsungnya proses sistematis liberalisasi permanen di Indonesia. In fact, if the observed development of the Indonesian economy in last two centuries, it is a continuous experience of this country, except in the Sukarno era, is the ongoing systematic process of permanent liberalization in Indonesia.

Dalam era pemerintahan Soeharto, terutama dengan masuknya Masuk Berkeley sebagai penentu kebijakan ekonomi Indonesia, proses pembentukan sistem perekonomian kapitalis pasar bebas itu dapat disimak antara lain pada dioperasikannya UU Penanaman Modal Asing dan UU Penanaman Modal Dalam Negeri pada masa awal pemerintahan Soeharto, pada berlangsungnya deregulasi dan debirokratisasi perekonomian pada pertengahan 1980-an, dan pada keterlibatan aktif Indonesia dalam mendukung organisasi perdagangan dunia WTO. In the era of the Suharto government, especially with the entrance of Berkeley as a determinant Sign in Indonesia’s economic policies, the formation of a capitalist economic system of free markets that can be listened to, among others in the operation of the Foreign Investment Law and Law on Domestic Investment in the early days of the Suharto government, the ongoing deregulation and debirokratisasi economy in the mid-1980s, and the active involvement of Indonesia in support of the WTO world trade organization. Implikasinya, sebagaimana tampak pada masa akhir pemerintahan Soeharto, hal itu tidak hanya bermuara pada berlangsungnya peningkatan besar-besaran peranan sektor swasta dalam perekonomian Indonesia, tetapi juga pada semakin meningkatnya peranan modal asing di Indonesia. The implication, as shown at the end of the Suharto government, it not only leads to the ongoing major increase in the role of the private sector in Indonesian economy, but also in the increasing role of foreign capital in Indonesia.

Percepatan luar biasa liberalisasi perekonomian Indonesia secara khusus berlangsung setelah Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1997/1998. Extraordinary acceleration of economic liberalization in particular Indonesia took place after the monetary crisis hit Indonesia in 1997/1998. Sebagaimana diketahui, salah satu peristiwa penting yang menyertai depresiasi rupiah dan kontraksi ekonomi sebesar –13 persen pada tahun 1998 itu adalah pada berlangsungnya penandatanganan nota kesepahaman antara pemerintah Indonesia dengan IMF. As known, one of the important events that accompany the depreciation of the rupiah and the economic contraction of -13 percent in 1998, it is the ongoing MoU between the Indonesian government and the IMF. Sebagaimana dapat disimak pada berbagai butir nota kesepaham tersebut, dalam garis besarnya pemerintah Indonesia sepakat untuk menyelenggarakan agenda ekonomi neoliberal atau agenda Konsensus Washington secara penuh di Indonesia. As can be listened to at various points kesepaham note that, in the outline Indonesian government agreed to hold the neoliberal economic agenda or the agenda of the Washington Consensus in full in Indonesia.

Sebagaiman dirumuskan oleh IMF dan Departemen Keuangan Amerika pada tahun 1989, pokok-pokok agenda ekonomi neoliberal atau agenda Konsensus Washington itu dalam garis besarnya adalah sebagai berikut. Sebagaiman formulated by the IMF and U.S. Treasury Department in 1989, the main points of neo-liberal economic agenda or the agenda of the Washington Consensus in the outline is as follows. Pertama, pelaksanaan kebijakan uang ketat dan penghapusan subsidi bagi rakyat banyak. First, the implementation of tight monetary policy and the elimination of subsidies to the general public. Kedua, pelaksanaan liberalisasi sektor keuangan. Second, the implementation of financial sector liberalization. Ketiga, pelaksanaan liberalisasi sektor perdagangan. Third, implementation of trade liberalization. Dan keempat, privatisasi Badan-badan Usaha Milik Negara (BUMN). And fourth, privatization agencies of State-Owned Enterprises (SOEs).

Dampak pelaksanaan keempat agenda ekonomi neoliberal tersebut dalam sepuluh tahun belakangan ini tidak hanya tampak secara mencolok pada semakin dominannya peranan modal asing dalam perekonomian Indonesia, atau pada semakin dibanjirinya pasar Indonesia oleh produk-produk impor, tetapi juga pada dialaminya kelangkaan sejumlah produk seperti pupuk, minyak goreng, dan minyak tanah oleh rakyat Indonesia. The impact of the implementation of the four neo-liberal economic agenda in the past ten years not only appear prominently in the increasingly dominant role of foreign capital in the economy of Indonesia, or dibanjirinya in the Indonesian market by imported products, but also in experienced shortages of products such as fertilizer, oil fried, and kerosene by the people of Indonesia. Penyebabnya adalah karena lebih diutamakannya pemenuhan kontrak-kontrak ekspor daripada pemenuhan kebutuhan dalam negeri. The reason is because more diutamakannya fulfillment of export contracts than the fulfillment of domestic needs.

Pertanyaannya adalah, sejauh manakah krisis keuangan yang saat ini sedang dialami Amerika akan berpengaruh terhadap berlangsungnya percepatan proses liberalisasi perekonomian Indonesia? The question is, as far as what the financial crisis currently being experienced by the U.S. will affect the ongoing acceleration of the process of liberalization of the Indonesian economy? Jawabannya sangat mudah. The answer is very simple. Jika dalam situasi normal Amerika secara terus berusaha memaksakan agenda-agenda ekonomi neoliberalnya, maka dapat dibayangkan apa yang akan dilakukan negeri itu dalam situasi krisis seperti saat ini. If in a normal situation in the U.S. continue to impose economic agendas neoliberalnya, so can imagine what the country would be in a situation like the current crisis. Ibaratnya, jika dalam situasi normal Amerika dapat bekerja secara lebih santai dalam memaksakan kehendaknya, maka tidak terlalu sulit dipahami bila dalam situasi krisis seperti saat ini Amerika akan terdorong untuk menggunakan tangan besi. Proverbial, when in normal circumstances the U.S. can work more relaxed in imposing its will, it is not too difficult to understand when in situations like the current crisis will push the U.S. to use an iron fist.

Saat ini tentu masih terlalu pagi untuk dapat mengetahui secara tepat tindakan yang akan dilakukan Amerika dalam memaksakan pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberalnya kepada Indonesia. We have of course still too early to know exactly what to do in the United States to impose the implementation of economic agendas neoliberalnya to Indonesia. Tetapi sebagaimana dapat disimak dalam pidato Bush ketika menyongsong penyelenggaran Sidang G-20 beberapa waktu lalu, serta dalam butir-butir deklarasi APEC yang diterbitkan beberapa saat kemudian, arah kebijakan pemerintah Amerika terhadap masa depan politik perekonomian Indonesia tidak terlalu sulit untuk dibaca. But as can be listened to in Bush’s speech when facing Providing Session G-20 some time ago, and in grains APEC declaration published a few moments later, the U.S. government’s policy toward the political future of Indonesia’s economy is not too difficult to read. Sebagaimana dikemukakan secara jelas dalam butir-butir deklarasi APEC, semua tindakan yang hendak dilakukan oleh negara-negara anggota asosiasi itu dalam menanggulangi dampak krisis harus tetap mengacu pada pelaksanaan prinsip pasar bebas. As clearly stated in the declaration points APEC, all actions to be done by the countries in the association’s members deal with the impact the crisis had to keep referring to the implementation of free market principles.

Tanda-tanda awal dari mulai berlangsungnya percepatan pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal di Indonesia dapat disimak antara lain pada beberapa peristiwa berikut. Early signs of starting acceleration of the ongoing agenda of neoliberal economics in Indonesia can be listened to among others the following on several occasions. Pertama, terbitnya surat keputusan pemerintah yang berisi pelepasan tanggungjawab negara dalam menetapkan upah minimum. First, the publication of the government decree that the release of the responsibility of the state in setting the minimum wage. Kedua, terbitnya UU Badan Hukum Pendidikan yang menandai dimulainya proses liberalisasi pendidikan secara menyeluruh di Indonesia. Second, the publication of Legal Education Act which marks the beginning of the process of overall liberalization of education in Indonesia. Dan ketiga, semakin gencarnya wacana untuk menyerahkan penetapan harga bahan bakar ke mekanisme pasar menyusul berlangsungnya penurunan harga minyak bumi secara besar-besaran di pasar internasional. And third, the more vigorous discourse to deliver fuel pricing to the market mechanism following the ongoing decline in oil prices on a large scale in the international market.

Kesimpulan dan Agenda Aksi Conclusions and Agenda for Action

Menyimak rangkaian uraian di muka, tiga kesimpulan penting yang dapat ditarik adalah sebagai berikut : Listening to the description on the face, three important conclusions can be drawn are as follows:

Pertama , perekonomian Indonesia bukanlah sebuah perekonomian merdeka. First, Indonesia’s economy is not a free economy. Jika sampai dengan 1945 bangsa Indonesia secara berganti-ganti dijajah oleh VOC, Belanda, Inggris, dan Jepang, maka terhitung sejak terjadinya peralihan kekuasan dari Soekarno kepada Soeharto, sekurang-kurangnya secara ekonomi, bangsa Indonesia kembali terjerumus ke dalam perangkap neokolonialisme Amerika. If until 1945 the Indonesian people are alternately occupied by the VOC, Dutch, English, and Japanese, then calculated from the transition of power from Sukarno to Suharto, at least economically, the Indonesian people again fell into the trap of American neocolonialism.

Kedua , sebagai sebuah perekonomian yang terjajah secara permanen, maka dinamika ekonomi-politik Indonesia lebih banyak ditentukan oleh pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh pihak penjajah, bukan oleh dinamika ekonomi-politik internal di Indonesia. Second, as a colonized economy permanently, then the dynamics of Indonesian political economy more determined by the imposition of the will made by the colonizer, not by the dynamics of the internal political economy in Indonesia. Sehubungan dengan itu, sekurang-kurangnya dalam dua abad terakhir, salah satu variabel yang secara terus menerus menyertai dinamika ekonomi-politik Indonesia adalah berlangsungnya liberalisasi permanen di Indonesia. Accordingly, at least in the last two centuries, one variable that accompanies ongoing political-economic dynamics of Indonesia is a permanent ongoing liberalization in Indonesia.

Ketiga , krisis kapitalisme Amerika adalah berita buruk bagi Indonesia. Third, the crisis of American capitalism is bad news for Indonesia. Sebagai koloni Amerika, krisis kapitalisme Amerika tidak hanya berdampak secara langsung terhadap kondisi riil perekonomian Indonesia, tetapi akan berpengaruh pula terhadap berlangsungnya percepatan pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal di Indonesia. As the American colonies, the crisis of American capitalism is not only a direct impact on the real condition of the Indonesian economy, but will also affect the ongoing acceleration of the economic agendas of neoliberal in Indonesia. Dengan demikian, krisis kapitalisme Amerika, selain akan menyebabkan semakin kukuhnya struktur ekonomi kolonial, juga akan menyebabkan semakin dalamnya perekonomian Indonesia terjerumus ke dalam perangkap sistem kapitalisme dunia. Thus, the American capitalist crisis, in addition to causing more kukuhnya colonial economic structure, also it will cause the Indonesian economy falling into the trap of the world capitalist system.

Menyimak ketiga kesimpulan tersebut, tantangan terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini sesungguhnya bukanlah soal mengantisipasi dampak krisis atau menentukan strategi penanggulangannya. The third listening conclusion, the biggest challenge facing the Indonesian people today really is not about anticipating the impact of the crisis or to determine a strategy to overcome. Jauh lebih lebih mendasar dari itu adalah pada semakin mendesaknya kebutuhan untuk memulai serangkaian perjuangan yang saya sebut sebagai rangkaian perjuangan kemerdekaan tahap kedua. Much more fundamental than that is the growing urgency of the need to launch a series of struggles that I have called the series a second phase of the struggle for independence. Upaya menjawab tantangan ini, selain membutuhkan konsolidasi besar-besaran di Indonesia, tentu sangat membutuhkan dukungan masyarakat internasional dalam arti seluas-luasnya. Attempts to answer this challenge, but requires large-scale consolidation in Indonesia, would desperately need the support of the international community in the widest sense. Hanya dengan memerdekakan diri bangsa Indonesia akan terbebas pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neokolonial sebagaimana dipaksakan oleh Amerika. Only by freeing ourselves of Indonesia will be free implementation of the economic agenda as imposed by the neo-colonial America. Dan hanya dengan cara itu pula bangsa Indonesia akan mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana dicanangkan oleh para pendiri bangsa. And only in this way also the Indonesian people will be able to realize the ideals of independence, as proclaimed by the founders of the nation. Semoga Allah melindungi dan memberkati perjuangan rakyat Indonesia. May Allah protect and bless the Indonesian people’s struggle.

Daftar Bacaan Reading List

______________, tanpa tahun. Hasil-hasil Konferensi Medja Bundar Sebagaimana Diterima Pada Persidangan Umum Jang Kedua Terlangsung Tanggal 2 Nopember 1949 di Ridderzaal di Kota ‘S-Gravenhage . ______________, Without year. The results of the Round Table Conference as Accepted At Public Hearing On Jang Second Terlangsung on 2 November 1949 in the City Ridderzaal ‘S-Gravenhage. Djakarta: Kolff Canberra: Kolff

Baswir, Revrisond, 2008. Ekonomi Kerkayatan: Amanat Konstitusi Untuk Mewujudkan Demokrasi Ekonomi di Indonesia , paper unpublished Baswir, Revrisond, 2008. Kerkayatan Economy: Constitutional Mandate To Implement Economic Democracy in Indonesia, unpublished paper

_______________, 2008. _______________, 2008. Utang Luar Negeri dan Imperialisme, paper unpublished Foreign Debt and imperialism, unpublished paper

Bello W, Cunningham S, Rau B, 2002. Dark Victory: Amerika Serikat,Penyesuaian Struktural, dan Kemiskinan Global . Bello W, Cunningham S, Rau B, 2002. Dark Victory: the United States, Structural Adjustment and Global Poverty. Jakarta: Yakoma PGI Jakarta: Yakoma PGI

Glassburner B, 1971. Glassburner B, 1971. Indonesian Economic Policy After Soekarno. Indonesian Economic Policy After Sukarno. In (Glassburner B, eds). The Economy of Indonesia: Selected Readings . In (Glassburner B, eds). The Economy of Indonesia: Selected Readings. Ithaca: Cornel University Press, pp 426-443 Ithaca: Cornell University Press, pp 426-443

_______, 1999. A Short History of Neoliberalism: Twenty Years of Elite Economics and Emerging Opportunities For Structural Change , http://www.milleniumround.org _______, 1999. A Short History of Neoliberalism: Twenty Years of Elite Economics and Emerging Opportunities for Structural Change, http://www.milleniumround.org

Hatta, Mohammad, 1985. Membangun Ekonomi Indonesia. Jakarta: Inti Idayu Press Hatta, Mohammad, 1985. Developing Economy of Indonesia. Jakarta: Inti Idayu Press

Higgins B, 1957. Indonesia’s: Economic Stabilization and Development . Higgins B, 1957. Indonesia’s: Economic Stabilization and Development. New York: Institute of Pacific Relation. New York: Institute of Pacific Relations.

Hudson M, 2003. Super Imperialism: The Origin and Fundamentals of US World Dominance . Hudson M, 2003. Super Imperialism: The Origin and Fundamentals of U.S. World Dominance. London: Pluto Press. London: Pluto Press.

Kanumoyoso B, 2001. Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia . Kanumoyoso B, 2001. Nationalization of Dutch companies in Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Palmer I, 1978. The Indonesia Economy Since 1965: A Case Study of Political Economy . Palmer I, 1978. The Indonesian Economy Since 1965: A Case Study of Political Economy. London: Frank Cass. London: Frank Cass.

Petras J dan Henry V, 2001. Globalisation Unmasked: Imperialism in the 21st Century . Petras J and Henry V, 2001. Globalization Unmasked: Imperialism in the 21st Century. Canada: Fernwood Publishing. Canada: Fernwood Publishing.

Robison R, 1986. The Rise of Capitalism . Robison R, 1986. The Rise of Capitalism. Australia: Allen and Unwin, Pty. Australia: Allen and Unwin, Pty.. Ltd. Ltd.

Robinson W, 1985. Imperialism, Dependency and Peripheral Industrialization: the Case of Indonesia . Robinson W, 1985. Imperialism, Dependency and Peripheral Industrialization: The Case of Indonesia. In (Higgot R, Robison R, eds). In (Higgot R, Robison R, eds). London: Routledge & Kegan Paul. London: Routledge & Kegan Paul.

Smit, C., 1976. Dekolonisasi Indonesia: Fakta dan Ulasan . Smit, C., 1976. Decolonization Indonesia: Facts and Reviews. Jakarta: Pustaka Azet Jakarta: Pustaka Azet

Soekarno, 1964. Di Bawah Bendera Revolusi , Jilid I dan II, cetakan ketiga. Sukarno, 1964. Under the Flag of the Revolution, Volumes I and II, third printing. Jakarta: Panitia Penerbit DBR Jakarta: Penerbit Committee DBR

= = = = = =

*Makalah disampaikan dalam Konferensi Sistem Ekonomi Islam Internasional, dengan tema “Menuju Dunia yang Aman dan Stabil di bawah Naungan Sistem Ekonomi Islam”, diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir, di Burri Convention Hall, Khartoum, Sudan, Sabtu 3 Januari 2009. * Paper presented in Conference of the International Islamic Economic System, with the theme “The World Towards a Safe and Stable under the shade of Islamic Economic Systems”, organized by Hizb ut-Tahrir, at Convention Hall Burri, Khartoum, Sudan, Saturday, January 3, 2009.

Masukan ini dipos pada Februari 1, 2009 1:25 pm dan disimpan pada Artikel , ekonomi dengan kaitan (tags) khilafah1924.org . These entries posted on February 1, 2009 1:25 pm and is stored in the article, the economy in terms (tags) khilafah1924.org. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan , atau trackback dari situs anda. You can follow any responses flow RSS 2.0 from this input you can give a response, or trackback from your site.

sumber: Revrisond Baswir (Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan, UGM, Yogyakarta) By: Revrisond Baswir (Research Center for the Study of Economic Democracy, UGM, Yogyakarta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: