pengaruh krisis as terhadap perbankan

BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN

TUGAS PENELITIAN

PERMASALAHAN YANG ADA DI LEMBAGA KEUANGAN

JUDUL PENELITIAN

PENGARUH KRISIS AS TERHADAP PERBANKAN INDONESIA

Di susun oleh

ANGGITA LAMBANG VIDIANTORO

10208142

2EA11

UNIVERSITAS GUNADARMA

2009

Kata pengantar

Masih sangat melekat dalam ingatan kita bersama atas pengaruh krisis keuangan yang terjadi di Indonesia beberapa waktu yang lalu, dimana hampir seluruh lapisan masyarakat harus ikut menanggung akibatya.Jumlah pengangguran yang meningkat tajam, kurs nilai tukar yang tidak stabil, serta tipisnya kadar kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan merupakan faktor-faktor yang masih terus diupayakan perbaikannya.

Krisis dimaksud tidak terlepas dari kurangnya kesiapan infrastruktur dalam sistim keuangan Indonesia dalam mengantisipasi tekanan-tekanan yang berasal dari external atau pasar internasional, serta belum adanya prosedur resolusi dari krisis yang bersifat baku dan diterima oleh semua pihak.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis keuangan dimaksud,berbagai negara telah pula memiliki concern yang sama guna mengkajipembentukan secara formal kerangka (framework) yang dapat diterapkandalam menjaga kestabilan system keuangan. Permasalahan dimaksud menjadi lebih penting lagi bagi negara yang memisahkan fungsi pengawasan dan pengaturan perbankannya.

Lembaran ini mencakup pembahasan tentang Asal mula terjadinya krisis,penyebab krisis AS,pengaruh krisis AS terhadap perbankan Indonesia,kredit valas hanya tersisa 18 persen,penguatan rupiah dan gejolak bursa dan kredit korporasi bank  swasta merosot.

Penulis/saya menyadari lembaran ini masih belum dapat disebut sempurna.Oleh karena itu, Penulis sangat berbesar hati untuk menerima gagasan,saran dan kritik dari pemerhati dan pembaca.

Akhir kata,penulis sangat bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata ala atas perkenaan dan rahmat ilmu dari-nya,sehingga penulis dapat menyusun ini.Penulis mengucapkan terima kasih.

Semoga Allah Subhanahu Wata-ala melimpahkan rahmat dan hidayah-nya kepada kita sekalian.Amin.

Bekasi, November 2009

Anggita Lambang Vidiantoro

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB 1

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang                                                                                            2              

Abstrak                                                                                                        3

Tujuan penelitian                                                                                        3

Metode penelitian                                                                                       3

BAB 2

PEMBAHASAN

Pengaruh krisis AS terhadap perbankan                                                      4                                                                   

Kredit valas bank hanya tersisa 18 persen                                                   6                                                                 

Penguatan rupiah dan gejolak bursa                                                            7                                                                           

Kredit korporasi bank swasta merosot                                                         9                                                                    

BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN 11

BAB 4

DAFTAR PUSTAKA 12

ii

BAB 1

Pendahuluan

Pada tahun 2008 ini telah terjadi situasi yang cukup menghenyakan banyak pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung Situasi tersebut tiada lain adalah krisis Ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat. Banyak orang mempertanyakan mengapa _actor yang sangat maju tersebut mengalami keterpurukan yang sedemikian rupa.
Banyak _actor penyebab mengapa Amerika serikat mengalami gonjang-ganjing keuangan, antara lain adalah Penumpukan hutang nasional hingga mencapai 8.98 trilyun dollar AS sedangkan PDB hanya 13 trilyun dollar AS, kedua adanya penurangan pajak koperasi sehinga berkurangnya juga pendapatan _actor,ketiga Pembengkakan biaya Perang Irak dan Afganistan (hasilnya Irak tidak aman dan Osama Bin Laden tidak tertangkap juga) setelah membiayai perang Korea dan Vietnam, lalu yang tak kalah _actor terkuat berasal dari Subprime Mortgage: Kerugian surat berharga property sehingga membangkrutkan Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UFJ,dan juga Keputusan suku bunga murah dapat mendorong spekulasi.
Krisis Amerika atau moneter telah merontokan pasar saham dan keuangan di Amerika serikat.Alhasil kondisi perbankan di dunia khususnya di Indonesia juga mengalami dampak yang cukup significant seperti melemahnya nilai tukar rupiah sehingga terjadinya kredit macet dan kesulitan analisa secara akurat kondisi keuangan dalam perbankan.

1

Latar belakang

Amerika Serikat dianggap kiblat perekonomian di dunia, namun pada saat ini mengalami krisis moneter. Lehman Brothers, Bear Stearns, Merrill Lynch, AIG, Freddie Mac dan Fannie Mae, sebagai lembaga finansial raksasa AS, selamat menghadapi resesi ekonomi AS paska serangan teroris tahun 2001. Mereka selamat manghadapi resesi ekonomi dunia akibat embargo minyak OPEC tahun 1973 dan selamat menghadapi dua perang dunia. Mereka juga selamat menghadapi resesi ekonomi dunia tahun 1930-an yang sering disebut “the great depression”, akibat krisis keuangan AS pada 1929.Namun, mereka tidak selamat menghadapi krisis kredit pembelian rumah (KPR) subprime di AS pada 2007/2008. Artinya, terpuruknya beberapa lembaga keuangan terbesar di dunia tersebut adalah indikasi bahwa permasalahan ekonomi AS dan dunia sekarang memang jauh lebih parah dari perkiraan kita sebelumnya.

Bank-bank di AS dan bank-bank asing ternyata menjadi biang kerok krisis ekonomi global yang terjadi saat ini.Laporan terbaru lembaga Center for Public Integrity menyatakan bahwa bank-bank asing dan bank-bank AS bukanlah korban dari krisis ekonomi, tapi mereka yang telah menyebabkan krisis ekonomi terjadi.Pemicu krisis ekonomi global, adalah lembaga-lembaga yang dimiliki atau mendapat dukungan dana dari bank-bank besar bertaraf internasional. Dan sekarang, lembaga keuangan dan bank-bank besar itu menerima suntikan dana bantuan dari pemerintah.Center for Public Policy Integrity-lembaga yang melakukan berbagai survei investigatif-dalam laporannya menyebutkan 25 perusahaan “pemberi pinjaman” yang telah memberikan pinjaman beresiko tinggi dan diduga bertanggung jawab atas runtuhnya pasar properti di AS dan meluasnya krisis ekonomi ke seluruh dunia.Perusahan-perusahaan pemberi pinjaman itu, menurut hasil penelitian Center for Public Policy Integrity, beranggungjawab atas pinjaman yang nilainya mencapai 1 trilun dollar atau meliputi 72 persen industri pinjaman di AS. Pinjaman itu diberikan pada para peminjam yang sebenarnya tidak memenuhi syarat menerima pinjaman tersebut untuk keperluan kredit perumahan (mortgage).

Dari uraian di atas, kita tahu bahwa krisis moneter di Amerika Serikat akhir-akhir ini telah mewabah ke berbagai benua dan dipastikan lebih parah dari krisis yang sudah pernah terjadi seperti krisis moneter yang telah melanda Asia pada tahun 1997/1998.

2

Abstrak

Kita masih sangat inggat dan juga Masih sangat melekat dalam ingatan kita bersama atas pengaruh krisis keuanggan yang terjadi di Indonesia pada kurun waktu 1998 beberapa waktu yang lalu, dimana hampir semua/ seluruh lapisan masyarakat harus ikut menanggung akibatya.Jumlah pengangguran yang meningkat tajam, kurs nilai tukar yang tidak stabil, serta tipisnya kadar kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan merupakan faktor-faktor yang masih terus diupayakan perbaikannya.Amerika serikat kita tahu bahwa kiblat perekonomian di dunia,bank-bank as dan bank-bank asing ternyata biang kerok dari permasalahan ini semua.Dalam kondisi seperti ini banyak yang harus dilakukan oleh perbankan karena sanggat berpengaruh terhadap perekonomian nasional khususnya di sector perbankan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang krisis global yang dialami oleh banyak Negara didunia,khususnya di Indonesia yang sangat berpengaruh terhadap kesetabilan dalam negeri,penelitian ini khusnya membahas mengenai pengaruh krisis AS terhadap perbankan,kredit valas bank hanya tersisa 18 persen,penguatan rupiah dan gejolak bursa dan kredit korporasi bank swasta merosot.

Tujuan Penelitian

Dari uraian yang dikemukakan diatas, permasalahan yang akan dibahas pada  makalah ini adalah sebagai berikut:
Penelitian  ini bertujuan untuk:

-Bagaimana asal mula terjadinya krisis subprime mortgage
-Mengetahui penyebab dari krisis Amerika Serikat
-Mengetahui dampak krisis ekonomi Amerika Serikat terhadap perbankan

-Mengetahui Pengaruh krisis AS terhadap perbankan Indonesia

-Mengetahui Kredit Valas Bank hanya tersisa 18 persen

-Mengetahui Penguatan rupiah dan gejolak bursa

Metode Penelitian

Untuk tercapainya output yang diinginkan maka metode pengumpulan data:

-Dilakukan Dengan tekhnik observasi,dengan cara  masuk kedalam situs computer/web(google.com)dan mencari data yang inggin diproses/dicari.judul kajian.

-Dilakukan dengan Teknik analisa,dengan cara data yang sudah ada lalu diproses dan dianalisa mana yang akan digunakan.

-Objek kajian adalah pengaruh krisis AS terhadap perbankan.

3

BAB II

Pembahasan

Pengaruh krisis AS Terhadap perbankan Indonesia
Pada tahun 2001-2005 pertumbuhan perumahan di Amerika serikat(AS) meningkat dengan disertainya suku bunga yang rendah karena jatuhnya saham-saham di Amerika serikat. Karena hal tersebut juga menyebabkan para peruhasahan tidak mampu membayar pinjaman ke bank.
Melihat kondisi tersebut, the FED menurunkan suku bunga menjadi sangat rendah. Suku bunga yang rendah tersebut dimanfaatkan oeh para pemilik perusahaan untuk membangun perumahan murah dan menjualnya menjadi skema subprime morgage.

Pada tahun 2001 para warga AS yang kondisi keuangannya menghawatirkan berbondong-bondong membeli rumah murah melalui skema subprime mortgage. Subprime mortage adalah sebuah fasilitas peminjaman uang jangka panjang untuk membeli perumahan.

Mortgage dikeluarkan oleh bank yang akan memberikan pinjaman kepada pembeli rumah untuk melunasi rumahnya dan pembeli rumah tersebut akan mencicil kembali pinjamannya dalam jangka waktu panjang. Bank ini lalu menjual mortage-mortage dengan jaminan pemerintahan AS. Lalu menggabungkan mortage tersebut menjadi Motgage Backed Securities (MBS) dan menjualnya kepada Wall Street. Dengan begitu, Fannie Mae dan Freddie Mac dapat menyediakan dana yang cukup bagi bank2 yang kemudian akan memberikan mortgage kepada rakyat Amerika. Sehinga para pemegang mortage membayar cicilannya pada investor.Dalam kondisi sebenarnya Bank tidak akan mau memberikan pinjaman pada orang yang dinilai tidak mampu, namun kondisi rakyat AS yan mendesak untuk tetap dikeluarkannya mortage,akhirnya Fannie Mae diperbolehkan menjamin kredit atas mortgage subprime.
Pada tahun 2006 harga rumah melonjak tinggi dari harga aslinya. Karena kondisi tersebut, tidak semua warga AS dapat membayar kredit rumah tersebut. Alhasil terjadi penyitaan rumah dan berakhir bertambahnya warga AS yang menjadi tuna wisma mendadak. Bank Investasi harus tetap memberikan pendapatan berupa bunga kepada investornya. Disinilah awal mula krisis subprime mortgage yang berimbas keseluruh dunia termasuk Indonesia sendiri.

4
Masalah kepemilikan subprime mortgage bukan hanya pemilik perbankan di Amerika Serikat, tapi juga perbankan di Australia, Cina, India, Taiwan, dan negara-negara lainnya. Dampaknya, harga saham perbankan di seluruh dunia jatuh. Hal ini pun menyulut kekhawatiran para pelaku pasar, karena bermasalahnya bank akan berdampak pada melemahnya kegiatan perekonomian. Peraturan Bank Indonesia tidak memungkinkan perbankan membeli surat utang berperingkat rendah sehingga perbankan Indonesia tidak memiliki surat utang subprime mortgage. Akan tetapi, karena harga saham perbankan di negara tetangga jatuh, investor asing juga menjual saham perbankan dan nonperbankan di Indonesia.

Investor lokal akhirnya juga ikut melakukan aksi jual. Apalagi harga saham dan harga obligasi di Indonesia sudah naik banyak, maka investor pun melakukan aksi ambil untung. Inilah yang menyebabkan harga saham turun, imbal hasil obligasi naik (harga turun) dan kurs rupiah melemah, bahkan minat terhadap penawaran saham BNI juga sempat terganggu.
Walaupun Indonesia tidak memiliki kaitanya dengan kepemilikan surat utang subprime mortgage.Hal ini menyebabkan menurunnya kepemilikan asing pada SBI yang cukup significant. Pada bulan agustus 2007 terjadi pengoreksian dan mendapatkan hasil bahwa IHSG turun.Turunnya IHSG menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah dari Rp.9000 ke Rp.9400 bahkan saat ini telah bertahan mencapai Rp.12.000. Melemahnya nilai tukar rupiah tersebut akan terus menerus berlanjut.
Depresiasinya nilai tukar rupiah, dilakukanlah langkah kebijakan yang dilakukan yaitu pelebaran rentang kurs intervensi, mengubah sistem nilai tukar dari managed floating menjadi free floating, intervensi BI dan pengetatan likuiditas, terjadi proses menjalar dari proses penularan tersebut, sehingga kurs rupiah menjalar menjadi masalah tertekannya perbankan.
Dalam kondisi masalah tertekannya perbankan, bank tidak hanya ditinggalan deposan tetapi juga bank lain, termasuk bank-bank mitra luar negeri. Contohnya penolakan L/C dari bank nasional oleh bank luar negeri.

Krisis tersebut menyebabkan kepanikan para nasabah bank karena mahalnya kredit bank, sehingga sektor keuangan berpengaruh negatif terhadap sektor rill(kegiatan produksi, investasi, perdagangan, maupun konsumsi).

Krisis keuangan ini terus manjalar menjadi krisis sosial dimana perusahaan tidak mendapatkan pinjaman bank sehingga melakukan PHK terhadap karyawannya, dan kemudian memunculkan krisis dalam kehidupan politik yang memuncak terjadinya krisis kepemimpinan nasional.

5

Kredit Valas Bank hanya tersisa 18 persen

Krisis keuangan global yang juga berdampak pada sistem perbankan dunia membuat kebijakan perbankan nasional bergeser. Saat ini bank sangat selektif dalam menyalurkan kredit berdenominasi valuta asing (valas).Hal ini diungkapkan oleh Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Mirza Adityaswara di sela jumpa wartawan penerbitan obligasi subordinasi Bank Mandiri di Jakarta, Menurutnya, saat ini kredit valas industri perbankan merosot jauh dibanding masa sebelumnya. Bila di era akhir 90-an porsi kredit valas bank mencapai 35 persen sampai 40 persen total kredit bank, saat ini hanya tersisa 18 persen.
“Dulu orang memilih kredit valas karena bunganya lebih murah dibanding kredit rupiah. Namun, saat ini bank memilih memberikan kredit rupiah karena kredit valas berisiko macetnya tinggi,”yang di ucapkan Mirza.Menurut Mirza kecenderungan perbankanmenolak kredit valas karena volatilitas nilai tukar rupiah. Sehingga, beberapa kali pengalaman krisis keuangan selalu dibarengi arus keluar dana asing (capital outflow).

Dampaknya terrasa pada pelemahan nilai tukar rupiah. Sehingga, kredit valas mengalami pembengkakkan dan berujung macet.Dengan pengalaman tersebut, perbankan Indonesia mulai mengurangi porsi kredit valas. Hal ini sebagai bagian dari manajemen risiko bank untuk mencegah lonjakan kredit bermasalah. Alhasil, porsi kredit valas inidibatasi dengan pertumbuhan yang minimal jika tidak negatif. “Tapi tidak bisa dipungkiri pengaruh turunnya ekspor Indonesia juga menjadi salah satu pemicu merosotnya kredit valas bank,” ujarnya.
Hal ini diakui Direktur Treasury dan Internasional Bank Mandiri Thomas Arifin. Pascakrisis global akhir tahun lalu, ekspor Indonesia mengalami kontraksi. Maski kenyataannya kontraksi tidak sedalam perkiraan sebelumnya, tapi kondisi ini belum bisa mendongkrak pertumbuhan kredit valas yang biasa digunakan para eksportir. Hal inipun terjadi pada pembiayaan ekspor impor yang pertumbuhannya sedikit terhambat. “Akan tetapi, tetap saja terjadi kontraksi,

” ujarnya. Hingga kuartal III lalu, pertumbuhan kredit untuk unit bisnis Internasional Bank Mandiri memperlihatkan kontraksi 3,9 persen (yoy). Jika tahun lalu kredit untuk unit ini mencapai Rp4,33 triliun, di Q3 tahun ini sedikit turun menjadi Rp4,17 triliun. Padahal, porsi tabungan valas bank pelat merah ini justru meningkat 36 persen menjadi Rp8,66 triliun. Begitu juga untuk demand deposit dan time deposit valas di Bank Mandiri secara tahunan tumbuh masing-masing 93,7 persen menjadi Rp20,31 triliun dan 3 persen menjadi Rp16,55 tiliun.

6

Penguatan rupiah dan gejolak bursa

Dalam jangka pendek, investor saham perlu tetap mewaspadai potensi aksi ambil untung (profit taking) akibat penguatan kurs rupiah yang sangat pesat relatif terhadap mata uang regional. Pasalnya, potensi perbedaan keuntungan investor asing akibat penguatan rupiah masih cukup besar.

Meski IHSG turun 4% selama pekan lalu, potensi total return (capital gain dan dividen) selama tahun berjalan masih besar, mencapai 78,96% (dalam rupiah) dan 104,4% (dalam dolar AS). Selisih keduanya 25,4% dimungkinkan oleh penguatan rupiah.

Investor asing bisa jadi membeli saham tidak semata karena pertimbangan fundamental perusahaan, seperti umumnya dilakukan investor lokal. Investor asing tetap bisa menikmati return selama penguatan mata uang lebih besar dari penurunan harga saham.

Dalam jangka panjang, prospek IHSG sangat cerah terkait dampak gelombang kejatuhan dolar akibat demikian besarnya kelebihan likuiditas dolar yang diciptakan semasa krisis yang memacu kenaikan harga komoditas dan menjaga suku bunga yang tetap rendah.

Gejolak IHSG jangka pendek terjadi bila arus investor yang merealisasikan keuntungan tidak diimbangi oleh kedatangan investor baru. Upaya mempercepat peningkatan perusahaan go public diharapkan dapat mengurangi gejolak IHSG

Menyidik penguatan rupiah

Meski melemah 1,7% selama sepekan lalu menjadi Rp9.587 per dolar AS, kurs rupiah sepanjang tahun ini menguat 15,4%. Penguatan ini sangat besar dibandingkan dengan indeks mata uang Asia terhadap dolar AS (Bloomberg: ADXY curncy) yang hanya 2,4%. Sementara indeks mata uang dunia utama, termasuk euro, terhadap dolar AS (Bloomberg: DXY curncy) menguat 6,6%.

Penguatan rupiah memang mencerminkan pasokan valas yang berasal dari perdagangan internasional dan investasi baik portofolio maupun sektor riil. Akumulasi cadangan devisa yang melebihi surplus perdagangan internasional mengindikasikan penguatan rupiah ditopang oleh arus modal masuk.

Mengapa terjadi perbedaan laju penguatan mata uang regional? Sangat bisa jadi hal ini terkait dengan kapasitas bank sentral menahan laju kejatuhan dolar.

7

Untuk meredam penguatan mata uangnya agar tidak menggerus daya saing ekspor, bank sentral melakukan intervensi beli valas dengan melepas likuiditas lokal. Akibatnya terjadi peningkatan cadangan devisa yang dikuasi bank sentral bersamaan dengan pertumbuhan likuiditas domestik.Namun untuk meredam dampak inflasi, bank sentral kerap perlu menyerap kembali kelebihan likuiditas melalui operasi pasar terbuka. Dalam hal Indonesia, Bank Indonesia menyerap likuiditas dengan penerbitan sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Penguatan rupiah mencerminkan keterbatasan kapasitas intervensi beli valas oleh BI akibat telah begitu besarnya kelebihan likuiditas. Bayangkan posisi saldo SBI per September 2009 ditaksir mencapai Rp243 triliun. Angka ini sekitar 400% modal atau 31% total aktiva BI.Porsi SBI yang dimiliki asing terus meningkat mengingat BI Rate masih menarik dibandingkan dengan suku bunga bank sentral lain. Agar SBI tidak digunakan untuk menampung kelebihan likuiditas global, memang sebaiknya BI memikirkan strategi untuk membatasi penempatan asing di dalam SBI.

Kejatuhan dolar

Takdir kejatuhan dolar secara teoretis sulit dielakkan bila menyimak penurunan tajam kecepatan peredaran uang (velocity of money, V) hingga ke paras terendah dalam sejarah AS.V diukur sebagai rasio produk domestik bruto nominal (sebagai proxi aktivitas sektor riil) terhadap uang beredar seperti M3. Penurunan persisten V mengungkap kecenderungan kelebihan pasokan dolar relatif terhadap penggunaannya untuk menggerakkan sektor riil. Jadi sewajarnya kurs dolar bakal melemah.

Tren penurunan velositas ini pernah kita alami sejak liberalisasi perbankan 1983 yang turut berperan menyemai bibit krisis keuangan 1998. Selain diperparah oleh kemelut peralihan kekuasaan politik, kejatuhan kurs rupiah saat itu dipicu oleh penguatan dolar sejalan dengan tren positif V di AS.Situasi kini berbalik: Indonesia 1999, AS 2009. Demikian besarnya penerbitan T-bond untuk membiayai pemulihan ekonomi yang tercabik krisis keuangan menyebabkan pemerintah AS semakin membanjiri dunia dengan dolar. Posisi utang negara AS per September 2009 mencapai US$12 triliun (sekitar 85% GDP), melonjak 100% sejak September 2001.

Sementara itu, permintaan dunia terhadap dolar boleh dibilang mengalami kejenuhan bila mencermati lonjakan cadangan devisa negara berkembang selama 10 tahun terakhir. Cadangan devisa negara BRIC (Brasil, Rusia, India dan China) diduga sekitar US$3,7 triliun, sementara China hampir US$2,3 triliun. Kejenuhan permintaan dolar tecermin pada tetap rendahnya suku bunga Libor. Terus menanjaknya harga minyak lebih banyak menandakan kekuatan financial demand akibat diversifikasi menjauhi dolar.

8

Pelemahan dolar bakal berlanjut mengingat belum terlihat tanda-tanda fed rate bakal naik. Bahkan metode John B. Taylor yang kerap digunakan untuk mengestimasi tingkat bunga keseimbangan menyarankan Fed rate yang negatif akibat tingginya tingkat pengangguran yang bersamaan dengan terjadi deflasi di AS.Tidak heran bila dolar menggantikan yen sebagai funding carry trade terutama dengan meningkatnya keberanian investor melirik risky asset akibat rendahnya return money market fund di AS yang persentase money market fund melesat ketika terjadi krisis keuangan.Hal inilah yang memacu liquidity-driven rally berupa kenaikan harga komoditas energi dan logam mulia serta bursa negara berkembang.Penguatan dolar seolah hanya terjadi pada puncak krisis keuangan akibat pencairan berbagai investasi surat berharga menjadi cash dolar.

Kredit korporasi bank swasta merosot

Laba bank publik tetap kinclong

Ekspansi kredit korporasi bank swasta nasional pada kuartal III/2009 kian merosot dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, perbankan tetap mendulang untung positif.
Direktur Korporasi BCA Dahlia Ariotedjo mengatakan perseroan hingga September 2009 mencatatkan kredit korporasi menurun sebesar 10% jika dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp46,1 triliun menjadi Rp41,49 triliun.”Kredit korporasi kami menurun 10% dibandingkan dengan tahun lalu, karena permintaan pada sektor riil rendah,” ujarnya di Jakarta, kemarin.
Penurunan kredit korporasi BCA cukup signifikan jika dibandingkan dengan September 2008 yang tumbuh sebesar 74,9% menjadi Rp46,1 triliun. Peningkatan itu didukung oleh permintaan kredit di sektor telekomunikasi, perkebunan, pertanian dan pertambangan.Kondisi serupa juga terjadi pada PT Bank Internasional Indonesia (BII) Tbk sebesar 5% atau Rp500 miliar jika dibandingkan dengan September 2008 sebesar Rp9,46 triliun menjadi Rp8,96 triliun.”Tapi, kami optimistis pada 2010 kredit bisa tumbuh sebesar 15%-20% karena ditopang oleh perbaikan kondisi ekonomi dan likuiditas,” ujar Presdir BII Ridha Wirakusumah, pekan lalu.
Wadirut Bank Danamon Jos Luhukay mengatakan bank-bank pelat merah masih bisa melakukan ekspansi kredit korporasi, terutama infrastruktur, karena memiliki kemampuan likuiditas dan kedekatan dengan pemegang saham.”Kalau bank seperti kami akan terkena dampak lanjutnya, karena dari kredit korporasi itu akan berimbas kepada ritel dan UMKM. Jadi ekspansi kami yang fokus pada sektor itu akan berjalan setelah proyek itu mulai,” paparnya.

9
Direktur Korporasi CIMB Niaga Catherine Hadiman menjelaskan kondisi kredit korporasi memang sejak akhir tahun cenderung redup.”Memang dampak krisis global membuat sektor usaha cenderung menahan ekspansi bisnis, tetapi seiring dengan membaiknya perkembangan ekonomi global membuat permintaan kredit pada saat ini kembali meningkat,” katanya, kemarin.Catherine menjelaskan pihaknya akan memperbesar ekspansi kredit korporasi pada sisa tahun ini sekitar Rp2 triliun-Rp3 triliun.

Laba positif
Sementara itu, meskipun kredit korporasi belum stabil sejumlah bank mendulang untung cukup signifikan. Namun, ada juga bank yang membukukan penurunan laba meski kredit meningkat.
Dalam publikasi per September 2009, CIMB Niaga membukukan keuntungan sebesar Rp1,2 triliun atau naik sebesar 19% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp966,6 miliar.Kenaikan laba bank yang dikendalikan oleh CIMB Group itu kontradiksi dengan kinerja kredit yang hanya naik 3% dibandingkan dengan periode yang sama menjadi Rp74,1 triliun. Bahkan, secara year to date hanya naik 0,2% atau Rp200 miliar.
Bank Permata membukukan peningkatan laba sebesar 28% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp500 miliar.Persentase kenaikan laba bank publik itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit yang sebesar 12% dari Rp33,7 triliun menjadi Rp37,6 triliun.Pertumbuhan laba cukup fantastis juga terjadi pada PT Bank UOB Bua-na yang meningkat 73,87% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp331,13 miliar.
Padahal ekspansi kredit hanya naik 3,5% atau sebesar Rp531,56 miliar dari Rp14,91 triliun menjadi Rp15,44 triliun.Sementara itu, Bank Panin pada kuartal III/2009 mencatat penurunan laba sebesar 6% dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp672 miliar menjadi Rp625 miliar. Padahal kinerja kredit naik sebesar 7,7% menjadi Rp41,28 triliun.
Wadirut Bank Panin Roosniati Salihin mengatakan laba operasional sebelum cadangan dan pajak sampai dengan kuartal III/2009 sebenarnya mencapai Rp1,6 triliun. Namun, manajemen meningkatkan pencadangan untuk mengantisipasi kredit bermasalah

10

BAB III

Kesimpulan dan saran

Krisis Subprime Mortgage Amerika Serikat terutama disebabkan oleh investor yang tidak memperhatikan faktor fundamental portofolio yang dibelinya, dan penyaluran kredit yang menyimpang dari prinsip 5 C (Character, Capacity, Collateral, Condition, Capital). Akibat adanya globalisasi, dimana transaksi keuangan bisa terjadi lintas negara, bahkan lintas dunia, maka dampak krisis subprime mortgage AS ini menginfeksi bursa saham di seluruh dunia, mengakibatkan penurunan harga saham besar-besaran, dan membangkitkan kepanikan para investor.
Walaupun indonesia tidak memiliki surat utang mortagage tersebut namun menyebabkan penurunan indeks harga saham tersebut diikuti dengan penurunan deposan terhadap perbankan, juga hilangnya kepercayaan bank asing terhadap bank yang ada di Indonesia. Hal tersebut berdampak berbagai aspek yang ada di Indonesia. Oleh karena itu sebaiknya para investor lebih jeli lagi terhadap portofolio yang akan dibelinya dan terhadap warga untuk tidak melakukan kredit jika sekiranya tidak mampu untuk melunasinya.
Bagi perbankan juga segera melakukan resrukturisasi kredit. Rekstrukturisasi kredit yang dilakukan melalui Bank Indonesia meperbaiki pembukuan bank serta manggairahkan para debiturnya untuk kembali berproduksi yang berarti menggerakan sektor rill.

Selanjutnya ditempuh dengan cara pengembangan infrastruktur perbankan, untuk meningkatkan daya tahan bank-bank dalam menghadapi berbagai gejolak. Salah satunya adaah pendirian Lembaga Penjamin simpanan. Selain itu dilakukan pelaksanaan fungsi pengawasan bank yaitu mengutamakan penegakkan aturan dan dengan frekuensi pemeriksaan bank yang difokuskan resiko yang dihadapi oleh setiap bank.

11

BAB IV

Daftar pustaka

  1. ://agusriyanto.wordpress.com pengaruh-krisis-moneter-amerika-serikat
  2. .com/Subprime mortgage crisis
  3. www.tempointeraktif.com
  4. http://arloeat.wordpress.com asal-usul-krisis-keuangan-2008/
  5. Hendri.aswara@bisnis.co.id Kredit korporasi bank swasta merosot
  6. Budi Hikmat.penguatan rupiah dan gejolak bursa
  7. Google.com
  8. www.permasalan lembaga keuanggan.com
  9. www.pengaruh krisis AS terhadap perbankan Indonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: